AKU, KAMU dan ORANG TUA MU
By: Sahdi Saputra
Ini tulisan mengenai perasaanku
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bagaimana kabarnya para sahabat di seluruh penjuru?
Semoga kita senantiasa sehat dan dijauhkan dari wabah penyakit yang sedang menjangkit daerah kita.. Aamiinππ
Satu bulan belakang ini kita sangat lazim mendengar kata covid 19. Ya, sebuah wabah penyakit yang tidak terlihat namun sangat mematikan.
Berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah untuk meredam penyebaran virus ini. Tak terkecuali di bidang pendidikan, dimana anak-anak baik dari tingkat Dasar sampai Perguruan Tinggi, baik yang ada di perkotaan dan diperdesaan. Semua harus mengalihkan pembelajaran yang normal seperti biasa, dialihkan belajar di rumah masing-masing. Sistem pembelajaranpun berubah secara otomatis dari tatap muka menjadi pembelajaran secara daring/online.
Para tenaga pendidik ataupun pengajar sibuk menyiapkan pembelajaran dengan sistem yang sudah ditetapkan, baik melalui media Whatsapp, SMS, E-mail, TV Dll. Tak terkecuali pendidikan yang ada diperdesaan, harus menyiapkan pembelajaran demi generasi harapan bangsa masa depan. Terlebih anak-anak yang berada di tingkat pembelajaran dasar juga harus tetap mendapatkan pembelajaran sebagaimana mestinya sebagai bekal mereka di masa depan..
AKU adalah seorang tenaga pendidik di sebuah perkampungan. Aku harus mendesain pembelajaran sebagaimana diintruksikan pemerintah demi generasi penerusku yang sangat lapar dan haus akan ilmu. Tantangan mungkin terasa lebih sulit dibandingkan di perkotaan yang notabene warga sekolahnya lebih melek teknologi dan pendidikan. Tak jarang di pedesaan, siswa dan Wali murid tidak memiliki alat komunikasi dan media elektronik serta belum melek pendidikan. Namun ini bukan keluhan dan keresahan diri, justru semua ini menjadi tantangan yang sangat luarbiasa. Tingkat kreatifitas dan kemampuan penyelesaian masalah kita dididik dan dilatih..
Tanggungjawab akan pendidikan anak-anak harus tetap berjalan bagaimana pun caranya, sehingga beberapa harus di jalankan dengan manual, seperti datang kerumah, dan pemberian tugas melalui lembaran. Namun tetap memperhatikan standar kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah (memakai masker dan sarung tangan, selalu cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pertemuan, dan jaga jarak)
Semua demi generasi penerus bangsa.
KAMU, iya kamu. Kamu adalah penerus bapak nak, penerus dan pemegang tonggak masa depan bangsa selanjutnya.. Besar harapan ayah, ibu, guru dan para pemimpin kepadamu, kelak suatu saat nanti kaulah yang akan melanjutkan roda kehidupan setelah kami.. Oleh karena itu, mari sayang tetap semangat dan jangan lupakan persiapkan bekalmu untuk masa depan yaitu Ilmu.. Tetaplah rajin belajar meski kita tidak bertemu.. Tentu bapak sangat rindu, tawa canda, tingkah aktif mu di kelas. π
Semua akan baik-baik sayang, tetap rajin belajar ya demi cita-cita mu.π€
ORANG TUA sementara berperan ganda, orang tua dituntut menjadi partner untuk anak-anaknya. Meneruskan ilmu yang diberikan oleh tenaga pendidik kepada anaknya. Mengawasi, membimbing, dan mendidik adalah peran yang harus dijalankan selama keadaan belum aman dan nyaman seperti biasa.
Semua pendidik mempercayakan metode pengajaran dan ilmu yang disampaikan kepada siswanya melalui orang tua.
Sebagai akhir dari tulisan ini. Ada 3 komponen kecil yang mesti bersatu, baik di perdesaan atau diperkotaan, yaitu Guru, Siswa dan Orang Tua. Tiga elemen ini harus saling mendukung demi terwujudnya cita-cita bangsa akan pendidikan.
Tetap semangat AKU (Tenaga Pendidik), KAMU (Siswa), ORANG TUA. Semoga kita akan segera bertemu seperti biasa dan menjalankan aktivitas pendidikan seperti biasa. Dimanapun kita berada semoga senantiasa diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Allah..
Aamiin..
Wassalamualikum warohmatulohi wabarakatuh
#pendidikanindonesia
#gurukreatif
#semangatmengajar
#guruwaykanan
Kisah dibalik desa
Senin, 20 April 2020
Sabtu, 02 Maret 2019
Aku harap Tuhan berbaik hati padaku, Aku mohon kali ini saja.
Aku berfikir bahwa Tuhan selalu memberiku masalah agar aku selalu merintih dalam doa untuk-Nya. Agar setiap hariku memohon dan mendekat pada-Nya.Hari ini aku menuangkan isi hatiku yang sudah penuh dan tak bisa ku tampung lagi. Aku harus melepaskan impianku untuk bertahan pada impian orang tuaku. Kemarin aku merasa bahwa aku sudah sampai di pintu masuk yang ku cari agar sampai ke muara mimpiku. Ya.. benar itu pintu utama yang ekslusif Tuhan berikan padaku lewat beasiswa LPDP. Dua bulan berlalu dan aku masih larut dalam kebahagiaan mimpi-mimpi itu. Tapi aku lupa bahwa ada doa lain yang tersampaikan pada Tuhan oleh orang tuaku. Dimana mereka menyelipkan doa lain selain permohonan atas terkabulnya impianku.
Seketika semua berubah ketika Tuhan berkehendak lain dan sengaja mengabulkan impian orang tuaku agar aku menjadi Aparatur Sipil Negara. Bagi sebagian orang, melepaskan mimpi yang ia kejar bertahun-tahun bukanlah hal sulit untuk dijalani ketika kamu memiliki hadiah baru yang terlihat lebih indah. Tapi tidak bagiku. Sampai kini aku masih terluka, marah, dan kecewa. Hanya aku tak pandai untuk bercerita pada orang lain. Karna kembali lagi mereka yang beranggapan mengenalmu dengan dekat takkan sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada hidupmu. Aku menulis untuk mengobati lukaku. Menghibur hatiku yang penuh kesedihan.
Maafkan aku ayah dan ibu, aku masih menyimpan marah pada kalian. Menyimpan sejuta kata yang ingin aku ungkapkan namun tak pernah kujelaskan. Aku ingin bercerita bagaimana sulitnya aku mengejar mimpiku. Menumpahkan semua kekesalanku pada kalian yang tak ingin mendengarkan kisah-kisah perjuanganku untuk mimpiku. Berharap kalian menjadi energy untukku menemukan passionku. Tapi aku tak bisa melakukannya. Melihat kalian terluka karna egoku akan impianku. Aku tahu Tuhan memberi jalan yang berbeda agar aku selalu mengerti makna kehidupan. Aku berharap suatu hari Tuhan berbaik hati padaku dan memberi hadiah untuk aku bisa melanjutkan impianku ntah bagaimana jalannya.
Aku percaya, Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Bijaksana. Tetap kusampaikan rintihanku agar Dia tau bahwa aku tak bisa meminta pertolongan lain kepada siapa pun selain Pada-Mu Tuhanku......
monokrom, 2 Maret 2019
Jumat, 06 April 2018
Tentang sebuah perjalanan
Mengagumi mu adalah hal manis yang tetap akan manis. Berjalan dalam hening waktu. Beriringan atau tidak aku tak peduli lagi. Yang kutau hatiku tetap saja menunggu. Meski kulalui waktu dengan bersembunyi dalam petualangan aku masih ingin melihatmu. Yah.. "if someday your eye can see my face. I want say to you that i carriying you be there anytime of day".
Jangan sembunyi lagi ketika kau temui aku kembali. Berdirilah di hadapanku dan jangan berkata kata. Cukup aku yang tau apa yang dikatakan hatimu bukan bibirmu.
Kau tau sulitnya aku melewati batas batas sunyi dalam perjalanan kesana kemari. Berharap aku bisa kembali. Setidaknya untuk minum teh di tepian bukit sambil mendengar kau bercerita tentang ini itu yang sudah kau lalui. Begitupula aku.
Aku mohon temukan aku kembali. Bila pada akhirnya kau tak temukan rasa lagi, cobalah berdiri tegar di depanku. Tapi jangan berkata-kata dan jangan buatku menangis karna terluka. Aku lebih senang jika kabar buruk kau simpan lebih lama. Sebab semakin cepat aku dengar duka maka semakin lama aku berdiam dalam luka. Temukan aku lagi. Sebab aku takut hati ini takkan berubah oleh waktu.
Monokrom, 4 April 2018.
Senin, 02 April 2018
Berani Hidup
Ada kalanya apa yang
diisyaratkan oleh hati tak bisa terbendung lagi. Aku ingin cerita pada-Mu
Rabbku. Untuk waktu dimana tak mampu kutampung lagi beban ini. Aku bukanlah
penCINTA tulisan. Tapi hatiku cukup terhibur kala aku menuangkan huruf demi
huruf dalam rangkaian kata. Saat hati begitu pahit untuk menampung semua beban
di bumi, dan beribu kekecewaan yang menghampiri. Bolehkah kusampaikan satu hal
padamu, jika kuulang waktu akan kutanyakan mengapa semua ini berlaku padaku.
Ketika semua pilihan
ada ditangan. Kamu harus berani memilih. Jangan menyalahkan siapapun tentang
hidupmu. Hiburlah dirimu sendiri. Lakukan sebisamu . lakukan apa yang membuat
hatimu ringan dari sebelumnya. Yang perlu kau tau air matamu yang jatuh adalah
air mata yang menghasilkan sebuah cerita dengan penuh ketangguhan. Kuatkan
hatimu sekali lagi. Kuatkan hatimu setiap hari. Semua beban yang tersampaikan
dipundakmu akan membuatmu lebih tangguh dari sebelumnya. Hidup yang kaupilih,
Nikmatilah. Lalu ubah tangismu menjadi senyum bahagia. Capailah mimpi-mimpimu
dengan kekuatan. Meski pada akhirnya kamu harus pulang sendiri. Berjalanlah
sayang, nikmati nada ditelingamu, usah khawatirkan bagaimana rintangan yang
akan kau hadapi. Kau hanya perlu berpegang teguh pada doa mu.
--Monokrom, 20 Januari
2018—
Senin, 19 Mei 2014
belajar bersenarai kata :)
SENARAI KATA AUD
(Mata Kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia)
Oleh
Penyusun : Chintia Eka Putri
NPM : 1313054005
P.S : Pendidikan Anak
Usia Dini
Dosen : Eka Sofia,
S.Pd.,M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
SENARAI
KATA AUD
NO
|
Senarai Kata
|
Menyenaraikan
|
1
|
Belom
|
Belum
|
2
|
Korsi
|
Kursi
|
3
|
Ngotorin
|
Mengotori
|
4
|
Biarin
|
Membiarkan
|
5
|
Mukul
|
Memukul
|
6
|
Kalo
|
kalau
|
7
|
Ni
|
ini
|
8
|
Gua
|
Aku/saya
|
9
|
Cewek
|
Perempuan/wanita
|
10
|
Pinjam
|
meminjam
|
11
|
Bawa
|
membawa
|
12
|
Antri
|
mengantri
|
13
|
Yaudah
|
Ya sudah
|
14
|
Bunder
|
Bundar
|
15
|
Bulet
|
bulat
|
16
|
Taro
|
letakkan
|
17
|
Gak mau
|
Tidak mau
|
18
|
Entar
|
nanti
|
19
|
Cubit
|
mencubit
|
20
|
Simpen
|
Menyimpan
|
21
|
Nanya
|
Bertanya
|
22
|
Balikin
|
Kembalikan
|
23
|
Sini
|
kemari / kesini
|
24
|
Nomer
|
Nomor
|
25
|
Main
|
bermain
|
26
|
Diri
|
berdiri
|
27
|
Jalan
|
berjalan
|
28
|
Udah
|
sudah
|
29
|
enggak
|
tidak
|
30
|
liat
|
lihat
|
31
|
Ngomong
|
Bicara
|
32
|
Nyari
|
Mencari
|
33
|
Lari
|
Berlari
|
34
|
diajarin
|
Diajari
|
35
|
pake
|
Memakai
|
36
|
males
|
Malas
|
37
|
Bo’ong
|
Bohong
|
38
|
bikin
|
Membuat
|
39
|
Motong
|
memotong
|
40
|
nyapu
|
Menyapu
|
41
|
maem
|
makan
|
42
|
sama
|
dengan
|
43
|
Berantem-beranteman
|
Bertengkar
|
44
|
nyoretin
|
Mencoret
|
45
|
mampus
|
Meninggal
|
46
|
Lapan
|
Delapan
|
47
|
Beli
|
Membeli
|
48
|
Korsi
|
Kursi
|
49
|
karna
|
karena
|
50
|
Ganti
|
Mengganti
|
51
|
Ambilin
|
Ambilkan
|
52
|
Tau
|
Mengetahui
|
53
|
Sampe
|
Sampai
|
54
|
Bobok
|
Tidur
|
55
|
Ngerti
|
Mengerti
|
56
|
Tendang
|
Menendang
|
57
|
cuci
|
mencuci
|
58
|
Makasih
|
Terimakasih
|
59
|
Lompat
|
Melompat
|
60
|
rebut
|
merebut
|
61
|
Tepuk tangan
|
Bertepuk tangan
|
62
|
Mau
|
Ingin
|
63
|
Ke dalem
|
Ke dalam
|
64
|
Gambar
|
menggambar
|
65
|
Ambilin
|
Ambilkan
|
66
|
Pinta
|
meminta
|
67
|
Rame
|
Ramai
|
68
|
Gede
|
Besar
|
69
|
Capek
|
Lelah
|
70
|
Ganggu
|
Mengganggu
|
72
|
Kapal terbang
|
Pesawat terbang
|
72
|
Njot-enjotan
|
Jungkat jungkit
|
73
|
perosotan
|
seluncuran
|
74
|
Ngantuk
|
Mengantuk
|
75
|
Bodo’
|
Terserah
|
76
|
Diem
|
diam
|
77
|
Boker/e’e
|
Buang Air Besar
|
78
|
Pipis
|
Buang Air Kecil
|
79
|
Minta
|
meminta
|
80
|
Panggil
|
Memanggil
|
81
|
Kejar
|
mengejar
|
82
|
Tutup mata dulu
|
Menutup mata dulu
|
83
|
cucu
|
Susu
|
84
|
mimi
|
Minum
|
85
|
Embem
|
mobil
|
86
|
Dedek
|
adik
|
87
|
Pegi
|
Pergi
|
88
|
Kesel/sebal
|
Kesal
|
89
|
Nyontek
|
Mencontek
|
90
|
Rasain
|
Rasakan/merasakan
|
91
|
Kali’
|
Mungkin
|
92
|
Telpon
|
Telepon
|
93
|
HP
|
Handphone
|
94
|
Gimana
|
Bagaimana
|
95
|
Ketawa
|
Tertawa/menertawai
|
96
|
Ujan
|
Hujan
|
97
|
Nginep
|
Menginap
|
98
|
Lompat
|
Melompat
|
99
|
Jam
|
Pukul
|
100
|
Pantesan
|
Pantas
|
101
|
Pilih
|
Memilih
|
102
|
Angkat
|
Diangkat/mengangkat
|
103
|
Temenan
|
Berteman
|
104
|
Musuhan
|
Bermusuhan
|
105
|
Ditabok
|
Dipukul
|
106
|
Nutup pintu
|
Menutup pintu
|
107
|
Nonton
|
Menonton
|
108
|
Sama
|
Dengan/ bersama
|
109
|
Kemaren
|
Kemarin
|
110
|
Bikin
|
Membuat
|
111
|
Bilang
|
Mengatakan
|
112
|
Nulis
|
Menulis
|
113
|
Baca
|
Membaca
|
114
|
Tinggal
|
Bertempat tinggal
|
115
|
Nolak
|
Menolak
|
116
|
Abis
|
Habis
|
117
|
Nanam
|
Menanam
|
118
|
Menyolok
|
Mencolok
|
119
|
Menyolek
|
Mencolek
|
120
|
ngerubah
|
Mengubah
|
121
|
Mainin
|
Memainkan
|
122
|
Ngotori
|
Mengotori
|
123
|
Nyanyi
|
Bernyanyi
|
124
|
Nembak
|
menembak
|
125
|
Muter
|
Memutar
|
125
|
Salaman
|
Bersalaman
|
126
|
Ngejek
|
Mengejek
|
127
|
Nginjak
|
Menginjak
|
128
|
Coret
|
Mencoret
|
129
|
Ngecet
|
Mengecat
|
130
|
Dengarin
|
Dengarkan
|
131
|
Njerit-jerit
|
Menjerit
|
132
|
Nambah
|
Bertambah
|
133
|
Nyuri
|
Mencuri
|
134
|
Nyabut
|
Mencabut
|
135
|
Jumlahin
|
Jumlahkan
|
136
|
Nyuruh
|
Menyuruh
|
137
|
Nelpon
|
Menelepon
|
138
|
Liat
|
Melihat
|
139
|
Pas
|
Saat
|
140
|
Idung
|
Hidung
|
141
|
Bener
|
Benar
|
142
|
Ngewarnai
|
Mewarnai
|
143
|
ngumpul
|
mengumpulkan
|
144
|
Jatoh
|
Jatuh /terjatuh
|
145
|
Pedes
|
Pedas/kepedasan
|
146
|
Certain
|
Ceritakan
|
147
|
Kayak
|
Seperti
|
148
|
Baris
|
Berbaris
|
149
|
Goyang
|
Bergoyang
|
150
|
Aja
|
Saja
|
151
|
Buat
|
Membuat
|
152
|
Naek
|
Naik
|
153
|
Rame
|
Ramai
|
154
|
Banget
|
Sekali
|
155
|
Nganggu
|
Mengganggu
|
156
|
Barusan
|
Baru-baru ini
|
157
|
Karna
|
Karena
|
158
|
Pertimbangin
|
Pertimbangkan
|
159
|
Muji
|
Memuji/dipuji
|
160
|
Gitu
|
Begitu
|
161
|
Gini
|
Begini
|
162
|
Emang
|
Memang
|
163
|
Ngantuk
|
Mengantuk
|
164
|
Ntar
|
Nanti
|
165
|
Kirain
|
Saya mengira
|
166
|
Pantesan
|
Pantasan
|
167
|
Jemur
|
Dijemur/menjemur
|
168
|
Masukin
|
Masukan
|
169
|
Keluarin
|
Keluarkan
|
170
|
Letakin
|
Letakan
|
171
|
Megang
|
Memegang
|
172
|
Balik
|
Pulang
|
173
|
Jemput
|
Menjemput
|
174
|
Ngalem
|
Manja
|
175
|
Bau’
|
Berbau
|
176
|
Biyar
|
Agar
|
177
|
Itam
|
Hitam
|
178
|
Pink
|
Merah muda
|
179
|
Mistar
|
Penggaris
|
180
|
Itung
|
Dihitung/menghitung
|
181
|
Cari
|
Mencari
|
182
|
Ikut
|
Mengikuti/ikutan
|
183
|
Jatoh
|
Jatuh
|
184
|
Kepeleset
|
Terpeleset
|
185
|
Kerja
|
Bekerja
|
186
|
Tidurin
|
ditidurkan
|
187
|
Gerakin
|
digerakkan
|
188
|
Dimarahin
|
dimarahi
|
189
|
Dicubitin
|
dicubiti
|
190
|
Dimajuin
|
Dimajukan
|
191
|
Tapi
|
Tetapi
|
192
|
Serang
|
Menyerang
|
193
|
Kasih
|
Memberi
|
194
|
Ketemu
|
Bertemu
|
195
|
Ahir
|
Akhir
|
196
|
Loe
|
Kamu
|
197
|
Bis
|
Bus
|
198
|
Nari
|
Menari
|
199
|
Masakin
|
Memasak/ dimasakan
|
200
|
Nyantai
|
Bersantai
|
201
|
Cuma
|
Hanya
|
202
|
Ngasih
|
Memberi
|
203
|
Ijo
|
Hijau
|
204
|
Pengen
|
Ingin
|
205
|
Dikerjain
|
Dikerjakan
|
206
|
Kasih tau
|
Beritahu
|
207
|
Sayang
|
Menyayangi/ disayangi
|
208
|
Dijajal
|
Dicoba
|
209
|
Seneng
|
Senang
|
210
|
Salaman
|
Bersalaman
|
211
|
Minder
|
Tidak percaya diri
|
212
|
Doa dulu
|
Berdoa dulu
|
213
|
Ngetawain
|
Menertawakan
|
214
|
Dikurangin
|
Dikurangi/dikurangkan
|
215
|
Bayangin
|
Bayangkan
|
216
|
Cakep
|
Ganteng/cantik
|
217
|
Pinter
|
Pintar
|
218
|
Ayok
|
Ayo
|
219
|
Isap
|
Menghisap
|
220
|
Nyebrang
|
Menyebrang
|
221
|
Nerima
|
Menerima
|
222
|
Males
|
Malas
|
223
|
Ngalir
|
Mengalir
|
224
|
Naek
|
Menaiki
|
225
|
Gelep
|
Gelap
|
226
|
Belom
|
Belum
|
227
|
Beda
|
Berbeda
|
228
|
Motokopi
|
Fotokopi
|
229
|
Ngidupin
|
Menghidupkan
|
230
|
Ngobrol
|
Berbicara
|
231
|
Filem
|
film
|
232
|
Suka
|
Menyukai
|
233
|
Alay
|
Berlebihan
|
234
|
Malah
|
Malahan
|
235
|
Gosok gigi
|
Menggosok gigi
|
236
|
Deket
|
Dekat
|
237
|
Sekalian
|
Sekaligus
|
238
|
Gigi bolong
|
Gigi berlubang
|
239
|
Mikirin
|
Memikirkan
|
240
|
Laler
|
Lalat
|
241
|
Kembang
|
Berkembang
|
242
|
Gerak
|
Bergerak/digerakkan
|
243
|
Kira
|
Mengira
|
244
|
Ninggi
|
Meninggi
|
245
|
Kumpul
|
Dikumpulkan
|
246
|
Malem
|
Malam
|
247
|
Suka
|
Menyukai
|
248
|
Cinta
|
Mencintai
|
249
|
Makan
|
Memakan/dimakan
|
250
|
Lepasin
|
Lepaskan
|
251
|
Ilang
|
Menghilang
|
252
|
Untung
|
Beruntung
|
253
|
Ponakan
|
Keponakan
|
254
|
Larang
|
Melarang
|
255
|
Malu
|
Memalukan
|
256
|
Dateng
|
Datang/ mendatangkan
|
257
|
Dibangunin
|
Dibangunkan
|
258
|
Suruh
|
Disuruh/ menyuruh
|
259
|
Bontot
|
Bekal makan
|
260
|
Gledek
|
Petir
|
261
|
Doang
|
Saja
|
262
|
Lagi
|
Sedang
|
263
|
Ikat
|
Mengikat
|
264
|
Narik
|
Menarik/ditarik
|
265
|
Buang
|
Membuang
|
266
|
Dikit
|
Sedikit
|
267
|
Banyakin
|
dibanyaki
|
268
|
Milih
|
Memilih/dipilih
|
269
|
Angkat tangan
|
Mengangkat tangan
|
270
|
Gunting
|
Menggunting
|
271
|
Motong
|
Memotong
|
272
|
Cium
|
Mencium/diciumi
|
273
|
Pegang
|
Memegang/dipegang
|
274
|
Pecahin
|
Memecahkan
|
275
|
Rebut
|
Rebutan/merebut/direbut
|
276
|
Naek
|
Naik/Menaiki/dinaiki
|
277
|
Tunggu/ nunggu
|
Menunggu/ ditunggu
|
278
|
Sangka/Nyangka
|
Menyangka
|
279
|
Nyerah
|
Menyerah
|
280
|
Dipeduliin
|
Dipedulikan
|
281
|
Paham
|
Pahami/memahami
|
282
|
Tahan
|
Bertahan
|
283
|
Jaga
|
Dijaga
|
284
|
Bersih
|
Membersihkan/dibersihkan
|
285
|
Ati-ati
|
Hati-hati
|
286
|
Jauh
|
Kejauhan/ dijauhi
|
287
|
Temanan
|
Berteman
|
288
|
Gambar
|
Menggambar/ digambar
|
289
|
Nyicip
|
Menyicipi
|
290
|
Minta
|
Meminta
|
291
|
Nolong
|
Menolong
|
292
|
Niru
|
Meniru/ ditiru
|
293
|
Nyebur
|
Menyebur
|
294
|
Renang
|
Berenang
|
295
|
Bebaju
|
Memakai baju
|
296
|
Kenal
|
Berkenalan
|
297
|
Pegang
|
Memegang
|
298
|
Tangis
|
Menagisi
|
299
|
Petik
|
Memetik/ dipetik
|
300
|
Jorok
|
Menjijikan
|
Langganan:
Postingan (Atom)
COVID-19 (Aku, kamu dan Orang tuamu)
AKU, KAMU dan ORANG TUA MU By: Sahdi Saputra Ini tulisan mengenai perasaanku Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaim...


